Curahan Hati Semua Cara

Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

NOVEL PERSAHABATAN YANG KARIB

Pada suatu hari, ketika Rasmani pergi ke sekolah diantarkan ibunya, bertemu mereka dengan seorang anak laki-laki yang berumur kira-kira empat belas tahun. Anak itu si Masrul, anak seorang kaum yang jauh dari ibu Rasmani. Ibu Rasmani menegur anak itu dengan manis, dan sapa itu dibalas oleh Masrul dengan hormatnya. Ketika itu hujan lebat. Rasmani dan ibunya bertudung daun pisang, sedang Masrul memegang sebuah payung. Ketika Masrul melihat baju Rasmani yang telah basah, berkatalah ia, “Etek, biarlah Rasmani berjalan dengan saya, buangkanlah daun pisangmu!”
     “Baik benar, Masrul, etek akan pergi ke sawah, hari telah tinggi. Rasmani, pergilah berjalan kakakmu itu!”
     Rasmani memandang kepada Masrul dengan kemalu-maluan. Rupanya ia belum kenal kepada Masrul. Pikiran anak itu dapat diterka oleh ibu Rasmani. Sebab itu ia berkata, “Jangan segan lagi, Masrul kaum kamu juga, ia anak Datuk Marajo, mamakmu. Datuk Marajo bersaudaras sebapak dengan ibu; bukankah engkau kenal kepadanya?”
     Rasmani tak berkata sepatah jua, ia membuangkan tudungnya ke tepi jalan dan berjalan dekat Masrul. Ibu rasmani kembali pulang sesudah memandang sejurus lamanya kepada kedua anak itu.
     Di tengah jalan Rasmani diam saja, sebentar-sebentar menjauh ia sedikit, karena takut pakaian Masrul akan basah oleh air bajunya.Masrul memayungi anak perempuan itu dengan hati-hati. Amat iba hatinya melihat anak itu basah kuyup dan menggigil kedinginan. Acap kali benar ia melihat Rasmani berbasah-basah seperti itu tiba di sekolah.
     Ketika mereka telah sampai di pekarangn sekolah, berkatalah Masrul, “Rasmani, baik engkau pagi datang kesekolah, supaya sama kita berjalan. Anak yang sebesar ini masih juga diantarkan orang tuanya. Anak-anak yang duduk dikelas satu pun tak ada yang diantarkan lagi. Tak ibakah engkau kepada ayah dan ibumu, berganti-ganti saja mereka menghantarkan engkau, padahal ia harus pula dengan segera pergi ke sawah?”
     Mendengar perkataan Masrul itu Rasmani berdiam diri saja, tak pernah terpikir olehnya yang seperti itu. Pada pikirannya hal itu sesuatu yang biasa saja, apalagi karena ia sendiri tak pernah minta diantarkan. Sekarang ada saja orang yang menyesalinya. Tak ibakah engkau kepada orang tuamu? Meskipun ia sekecil itu sudah terasa olehnya, bahasa sesalan itu tak pada tempatnya, sebab itu ia tak tak menjawab sepatah juapun
     Karena Rasmani berdiam diri saja, bertanyalah Masrul, “Tak maukah engkau, Rasmani?”
     “Tak mau mengapa, Bang?”
     “Bersama berjalan dengan saya, saya nantikan engkau tiap pagi. Tapi engkau harus pagi berangkat dari rumah.”
     “Mau, tapi Abang diam jauh pula dari rumah kami.”
     “Sampai ke rumah saya boleh etek atau mamak mengantarkan kamu; itu tak berapa jauh, kalau hari baik berjalanlah sendiri; maukah engkau?”
     “Mau Bang.”
     Mulai dari hari itu kelihatanlah tiap-tiap pagi dan tiap-tiap pukul satu kedua anak itu beriring akan pergi atau pulang dari sekolah. Kadang-kadang  mereka berjalan bersama-sama dengan kawan-kawannya yang lain, kadang-kadang mereka berdua saja.
     Kalau hari hujan tdaklah Masrul menantikan Rasmani, melainkan pergi kerumahnya akan menjemput dia. Demikian juga pulang dari sekolah diantarkannya sampai di rumah.
     Masrul dengan hati-hati benar menjaga Rasmani. Biarlah ia kena hujan asal Rasmani terlindung. Di tengah jalan, kalau mereka bertemu dengan kuda atau kerbau lepas, yang acap kali kejadian, dipegangnya tangan Rasmani erat-erat dan dibawanya lari atau menghindar.
     Makin lama makin kariblah persahabatan merekaitu. Masrul merasa canggung kalau tak bersama dengan Rasmani, demikian pula kebalikannya. Ada-ada saja dibuat Masrul akan membesarkan hati Rasmani.  Uang yang didapatnaya dari orang tuanya untuk membeli makanan tak pernah dihabiskannya seorang diri. Buah-buahan yang diperolehnya tetap diasingkannya untuk Rasmani. Selalu dijaganya supaya Rasmanai mempunyai tangkai pena, anak batu tulis, potlot, kalam dan lain-lain keperluan sekolah.
     Ditangkapnya burung dan dibuatkannya sangkarnya sekali untuk permainan Rasmani.
     Ibu-Bapak Rasmani sangat memuji kelakuan Masrul itu.
     Sejak mereka itu bersahabat, Rasmani tak pendiam benar lagi. Ia telah berani berjalan sendiri dikampung. Pergaulannya dengan anak laki-laki bebas, karena sekalian sahabat Masrul menjadi sahabatnay. Meskipun ibu-bapak Rasmani orang kampung benar, tetapi mereka merasa tak pada tempatnya anak perempuan yang baru berumur 8, 9, 10 tahun telah merasa malu kepada anak laki-laki kawan-kawannya itu. Sebab itu, dengan tulus ikhlas dibiarkan mereka Rasmani bersahabat dengan Masrul.
     Karena Masrul ditakuti oleh kawan-kawannya, sebab kuatnya dan diseganisebab pandaina di sekolah, serta dimulai karena budinya yang baik, tak adalah mereka yang berani mengganggu serta menertawakan dia tentang persahabatannya itu.
     Orang tua Masrul dan orang yang lain sekampung itu tak merasa keburukannya.
     Pada perasaan Masrul, kalu ia ada beradik perempuan, taklah akan lebih sayangnya kepada adiknya itu dari kepada Rasmani.
     Pada perasaan Masrul, kalu isa ada beradik perempuan, segan ia meminta sesuatu keperluannya kepada Masrul. Kalau ia kena ganggu oleh kawan-kawannya, kepada Masrullah diadukannya halnya.

Cerita Motivasi Menjadi Lebih Baik

Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.

Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”
“Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si penebang.

“Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.

Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru !
Marii mulai sekarang kita berubah menjadi lebih baik :D

CERPEN MONYET YANG RAKUS


bermula dari seekor monyet yang terkenal licik dan sangat rakus. Sehingga banyak hewan hutan lainnya yang sangat terganggu akan sifat dari si monyet yang sering mengganggu dan membuat onar. Apabila ada hewan lain yang sedang memakan santapannya, si monyet langsung merebut dan mengambil makanan hewan lain tersebut. Si monyet juga terkenal licik, tak jarang hewan lain yang tertipu akibat akal bulus si monyet.

Pada suatu hari datanglah seorang pemburu yang masuk hutan untuk mencari seekor monyet untuk diburu dan dibawa pulang. "Hari ini aku harus bisa pulang membawa seekor monyet dan aku akan bawa pulang", Si pemburu berkhayal akan buruannya.

Setelah memasang perangkap untuk menjebak monyet, si pemburu kemudian bersembunyi dibalik pohon dan mengamati perangkapnya dari kejauhan sambil bersantai-santai. Setelah beberapa ia menunggu akhirnya datanglah seekor kura-kura yang berjalan lambat melewati perangkap tersebut.

"Hmm..banyak sekali makanan disini", kura-kura melihat ada banyak makanan yang tersedia di jalan yang dilewatinya. Namun ia tak sadar bahwa ada tali yang sudah menjerat kakinya. "Oh gawat ternyata ini adalah jebakan", si kura-kura hanya terdiam menyesali kalau ia sudah masuk perangkap si pemburu.

Tak lama kemudian datanglah monyet menghampiri si kura-kura tersebut. "Hai, kura-kura kau sedang pesta besar yah?", ternyata si monyet mengira kalau si kura-kura sedang pesta makanan. Melihat si monyet datang, si kura-kura sangat senang, berharap ia bisa bebas dari perangkap.

"Hai monyet, senang aku melihat kau datang, mari bergabung dengan ku." Ajak si kura-kura. Monyet yang melihat makanan yang berlimpah langsung turun dari pohon. "Tapi monyet...sebelum kau berpesta, ijinkan aku untuk mengambil minuman yang segar untuk mu, aku lupa membawakannya untuk mu", kata si kura-kura."sebelumnya bisakah kau melepaskan tali ini?"

Mendengar si kura-kura akan membawakan minuman segar, monyet meng-iyakan permintaan kura-kura, dan ia pun melepaskan tali tersebut. "Sekarang kau ikat tali ini agar, makanan-makanan ini tidak diambil oleh hewan lain". Kata si kura-kura. Memang dasar monyet sangat rakus, ia pun segera mengikat kedua kakinya dengan tali jebakan itu, berharap tidak ada hewan lain yang mengambil makanan yang ada dihadapannya.

Akhirnya si kura-kura lepas dan bebas dari perangkap tersebut, tinggalah si monyetyang sedang memakan dengan lahap semua makanan yang ada di perangkap tersebut.

Akhirnya si pemburu melihat ada monyet yang sudah berada di dalam jebakannya. maka dengan mudahnya si monyet tertangkap dan dan dibawa pulang oleh si pemburu tadi.

CARPEN KELINCI PEMBOHONG


Di padang rumput nan hijau, hiduplah seekor kelinci yang sangat nakalm, setiap hari kerjaannya mengusili penghuni padang rumput. Pada suatu hari, si kelinci ketemu pak kijang. Dalam hati kelinci berpikir “saya kerjain saja Pak Kijang, tapi bagaimana ya?” Si kelinci berpikir keras dan tiba-tiba ide nakal sampai di kepalanya. “Saya pura-pura saja lari Pak Kijang sambil berteriak ‘pak singa ngamuk’”.
Maka sambil larilah, Si Kelinci sambil berteriak “Pak Singa ngamuk! Pak Singa ngamuk!”, akhirnya pak kijang sekeluarga lari tak beraturan, sampai anaknya Pak Kijang jatuh ke jurang.
Puaslah hati Si Kelinci, berbahak-bahak dia, “kena saya kerjain Pak Kijang”. Begitu bangganya Si Kelinci, “cerdas juga saya” Congkak si kelinci.

Si kelinci melanjutkan jalan-jalannya sambil mencari korban berikutnya. Dari kejauhan, Si Kelinci melihat Pak Kerbau. Dia pun melakukan hal yang sama seperti pada Pak Kijang. “Pak Singa ngamuk! Pak singa Ngamuk” teriak Si Kelinci, sambil berlari ke arah Pak Kerbau sekeluarga.
Terang saja Pak Kerbau langsung lari terbirit-birit sampai istri Pak Kerbau yang lagi hamil, keguguran. Duka Pak Kerbau jadi suka cita Si Kelinci.
Hari berikutnya Pak Kijang bertemu Pak Kerbau, mereka menceritakan kejadian yang mereka alami kemarin. Selagi mereka asik membahas masalah yang menimpa keluarga mereka yang disebabkan oleh Si Kelinci, tiba-tiba terdengarlah suara teriakan Si Kelinci dari kejauhan, “Tolong, saya dikejar-kejar Pak Singa, Pak Singa ngamuk! Tolong, tolong, tolooong!,” tapi tidak ada yang perduli, “ah, paling-paling Si Kelinci lagi-lagi membohongin kita” pikir mereka.

Sekuat tenaga Si Kelinci menghindari kejaran Pak Singa, tapi apalah daya, Pak Singa lebih cepat larinya, akhirnya Si Kelinci mati dikoyak-koyak Pak Singa dan tidak ada yang perduli.



JANGAN SIA-SIAKAN WAKTU



Sobat muda muslim, sebagai manusia kita emang terbatas dan nggak sempurna. Itu sebabnya, kita jangan sampe melupakan siapa kita dan misi keberadaan kita di dunia ini. Ini wajib kita pahami betul, sobat. Kalau nggak? Wah, bisa kacau-beliau tuh. Coba aja perhatiin orang yang nggak sadar siapa dirinya dan misi adanya dia dunia ini, hidupnya suka semau gue. Seakan hidup nggak kenal waktu. Bahkan bagi orang yang kehidupannya diberikan kebahagiaan berlebih oleh Allah, suka lupa dan merasa ia akan hidup selamanya di dunia ini. Apalagi bila kita menjalaninya dengan serba mudah dan indah. Nikmat memang. Namun, sebetulnya kita sedang digiring  ke arah tipu daya yang bakal menyesatkan kita bila kita tak segera menyadarinya. Rasulullah saw bersabda: “Ada dua nikmat, dimana manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhari)
Benar, bila badan kita sehat, segar, dan bugar, bawaannya seneng dan merasa bahwa kita nggak bakalan sakit. Kalo lagi sehat nih, diajak jalan kemana aja kita antusias. Makan apa aja kita paling duluan ngambil dan mungkin paling gembul. Waktu kita sehat, kita lupa bahwa kita juga bakal sakit. Nggak heran kalo kemudian kita melakukan apa saja sesuka kita, termasuk yang deket-deket dengan dosa. Kesehatan memang nikmat yang bisa menipu kita. Melupakan kita dari aktivitas yang seharusnya kita lakukan.
Begitu pula dengan kesempatan. Kalo lagi ada waktu luang, bawaan kita pengennya nyantai aja. Coba, kalo tiba musim liburan, serta merta kita bersorak kegirangan. Bukan karena kita bisa mengerjakan aktivitas yang nggak bisa dilakukan saat kita sekolah, tapi karena itu adalah semata-mata waktu luang. Kita menganggap bahwa itulah saatnya bersantai dan melepaskan beban penderitaan selama belajar di sekolah.
Ya, kesempatan juga bisa menipu kita. Padahal, waktu luang itu bisa kita gunakan utuk kegiatan yang bermanfaat dan berpahala. Namun nyatanya sedikit banget yang ngeh. Udah kepepet, baru nyesel. Ketika masih jauh dengan waktu ujian, kita nyantai banget. Eh, begitu hari “H”-nya, kita langsung kelabakan nyari bahan belajar untuk ujian. Soalnya selama itu nggak pernah nyatet pelajaran. Kalo begitu, buat sekolah ya? Dan yang pasti, banyak waktu terbuang percuma. Jadi, sayangi dirimu, kawan.
Orang yang nggak merasa bahwa waktu itu begitu berharga dan bernilai, maka doi biasanya malas untuk belajar. Kalo udah malas belajar, alamat akal kita kekurangan pasokan ilmu. Ujungnya kita bisa jadi nggak mampu memfungsikan akal kita untuk mengetahui Rabb kita, untuk mengetahui siapa kita, keberadaan kita dan mau ngapain kita di dunia. Kalo begitu, kita nggak ada bedanya sama “teman-teman” di Ragunan. Ih, amit-amit ya? Jangan sampe deh. Firman Allah Swt.: “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.” (QS al-Anfâl [8]: 22)
Begitu pentingnya akal ini, hingga Umar bin Khattab ra pernah mengatakan, “Pokok dasar seseorang adalah akalnya, keluhurannya adalah agamanya, dan harga dirinya adalah akhlaknya.” Tuh, catet ya!
Ali bin Abi Thalib ra juga pernah berwasiat kepada putranya, Hasan dan Husein, sesaat sebelum meninggal dunia: “Sesung­guhnya kekayaan yang paling tinggi nilainya adalah akal pikiran. Kemelaratan yang paling parah adalah kebodohan.”
Selain akal, juga ada hati. Kata Imam al-Ghazaliy, hati itu ibarat cermin. Kalo nggak pernah dibersihkan, maka akan berkarat oleh debu. Itu sebabnya, bila kita tidak memanfaatkan waktu untuk mengingat Allah, untuk hadir di majelis-majelis dzikir, hati kita akan kosong. Ujungnya, kita mudah resah, putus asa, galau, frustrasi dan sejenisnya.
Menyia-nyiakan waktu juga bisa berakibat kosongnya jiwa kita. Sayyid Qutb memberi gambaran: “Itulah jiwa yang kosong, yang tidak pernah mengenal makna serius. Ia bersikap santai meski menghadapi bahaya yang mengintai. Ia bercanda-ria di saat membutuhkan keseriusan dan senantiasa meremehkan permasalahan yang suci dan sakral. Jiwa yang kosong dari sikap yang serius dan penuh kesucian, akan meremehkan setiap persoalan yang menyelimutinya, mengalami kegersangan jiwa dan dekadensi moral.”
Sobat, kalo kamu mulai menyia-nyiakan waktumu, maka itu artinya kamu sudah mengarahkan langkah kamu ke dalam jurang kehancuran. Kosong akal, kosong hati, dan kosong jiwa. Kalo udah begitu, alamat kehidupan ini terasa garing dan nggak bermakna. Padahal, kehidupan di dunia ini cuma sesaat dan amat semu plus sekali pula.
Jangan sampe hidup kita hanya diisi dengan kegiatan yang nggak ada manfaatnya untuk kehidupan abadi kita di akhirat nanti. Mulai sekarang, tinggalkan segala aktivitas yang merugikan kita. Meski mungkin tampaknya aktivitas itu bakalan nguntungin menurut penilaian kita; popularitas, harta, kesenangan dan sebagainya. Tapi kalo itu maksiat kepada Allah, nggak ada artinya kan?
Jadi jangan sampe kita nyesel seumur-umur akibat kita menzalimi diri sendiri. Sebab, kita nggak bakalan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat, bila kita udah meninggalkan dunia ini. Firman Allah Swt.:“Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi.” (QS ar-Rûm [30]: 57)

MAKIN GELAP MAKIN TAK TERLIHAT

Matahari mulai menjauhkan wujudnya dari pandangan mata manusia. berangsur-angsur dia tenggelam di ufuk barat. Bersamaan dengan itu, gelap mengelayut menyelimuti alam semesta, menutupi semua yang ada dan terlihat. Hitam dan semakin gelap. kita tidak dapat lagi melihat pepohonan rindang di sekeliling rumah kita, yang tadi tampak berdiri teguh.

 Saudaraku cerita diatas bisa jadi cermin hidup kita. Kehidupan di tengah "hitam dan gelap". Apa yang terjadi ketika Anda banyak melihat "hitam dan gelap?" Bukankah semakin banyak terlihat semakin gelap, semakin tak bisa anda melihatnya?
  Hitam dan gelap maksudnya adalh sebagai nilai-nilai agama, bertentangan dengan adat yang ada. jika kita terus berada dalam suasana hitam dan gelap ini, maka mata hati kita tidak bisa melihat cahaya kebenaran, keimanan, dan islam dengan benar.
   
Saudaraku, mungkin selama ini kita hidup diantara orang-orang yang kurang paham terhadap islam. Aktivitas dan kegiatan mereka selalu bergelut dengan keburukan  yang tiak direncanakan. kita kadang dijerat untuk berbuat seperti mereka.

Saudaraku, karakter kita memang bisa terbentuk dengan kebiasaan orang-orang yang ada di sekeliling kita. Ketika orang di sekeliling kita baik, maka kita mungkin cenderung untuk baik. begitu sebaliknya jika orang-orang buruk ada di sekeliling kita.

  Keluarga adalah tempat pertama kali kita mengenal dunia. oleh karna itulah maka peran keluarga sangat besar dalam mengenal dunia dan pembentukan karakter kita. keluarga yang ternaungi oleh islam dengan baik maka akan membuat kita akan turut berislam dengan baik. bagaimana jika keluarga kita jauh dari nilai-nilai islam?.
 
   Sering kali, kita menjalani hidup yang sebenarnya baik. Sayangya hal tersebut tidak diniatkan dengan baik karna Allah. kita malah meniatkanya secara salah. celakanya, ketika kita berada dilingkungan yang buruk, kita justru terbawa arus kepada kegiatan-kegiatan yang serupa.

  Semakin kita dinaungi dengan kelakuan-kelakuan buruk, semangkin tidak bisa hati kita menerima kebenaran. sulit rasanya melepaskan kebiasaan buruk yang telah mengakar begitu lama. maka ketika suatu hari, mungkin ketika anda sedang berjalan di suatu persimpangan, atau sedang duduk-duduk di suatu tempat, anda melihat sebuah peristiwa yang sedikit memberikan Spirit (kebaikan) kepada anda, maka pupuklah, suburkanlah cahaya itu agar menerangi bagian-bagian hati yang berwarna hitam, agar diri anda dapat diajak untuk berpindah haluan dari sisi yang tidak baik menuju sisi yang baik, penuh cahaya ketenangan, yang akan menjadikan hati anda tentram.

  Kebaikan akan mengantarkan kita pada tujuan hidup kita yang sebenarnya, yaitu surga Allah di akhirat. bagaimana dengan dosa-dosa yang mungkin telah kita lakukan? Biarlah! jika dulu kita sering melakukan kesalahan, mulai sekarang bertobat dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan, berusaha menjalankan perintah Allah kedepanya, insyaallah diampunkan dosa-dosa kita. maka bertobat dan beribadahlah yang benar, itulah yang harus kita lakukan. kita usahakan dengan sekuat tenaga, dan sungguh sungguh agar kita berhasil. :)  .

APA SEBENARNYA TUJUAN HIDUP KITA?

      Setiap manusia haruslah mengetahui siapa dirinya, kenapa dia dilahirkan, dan apa tujuan dan tugas-tugas hidupnya, berapa lama dia bisa hidup di dunia ini, dan kemana dia pergi setelah meninggalkan dunia ini?

Kalau manusia tidak bisa menjawab dengan benar, maka hidupnya seperti manusia yang hidup di hutan-hutan yang menutup auratnya dengan daun daunan. Mereka tidak berilmu.
 Orang orang yang tinggal di kota pun banyak yang tidak mengetahui tujuan & tugas hidupnya. Ada yang mengatakan untuk mencari hidup yang bahagia, berkeluarga serta membesarkan dan mendidik anak-anak mereka

tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah sebagaimana firman Allah  QS 51:56 menjelaskan:
“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku".

Disurat yang lain Allah SWT berfirman :
“Dialah yang telah menciptakan kamu dari bumi (tanah), dan menjadikan kamu pemakmurnya. (QS.11:61).
Artinya kita sebagai penghuni bumi harus mengolah hasil bumi dengan baik untuk kemakmuran umat manusia juga tidak merusak bumi ini,
Nanti setiap manusia akan diminta pertanggung jawaban. Siapa yang rajin bekerja untuk Allah dan siapa aja yang malas bekerja untuk Allah.

Ada saatnya kita merasa jenuh dalam hidup apa yg kita lakukan tidak memberikan kebahagiaan kejenuhan, rasa bodoh, dan kehampaan timbul ketika kita bisa menikmati apa yang kita lakukan kita mungkin telah salah memahami hidup ini bahkan yang kita perbuat adalah kesalahan disaat seperti ini, merenung adalah obat kita perlu mengitropeksi diri dan mengumpulkan kekuatan yang berserakan dan yang pasti, kita bukanya menikmati kebodohan kita, kejenuhan bukan berarti kita kalah kita hanya perlu sedikit waktu jeda lalu kembali untuk menang.

 Saudaraku......., ditengah simpang siur kehidupa, mungkin kita perlu berhenti sejenak untuk berikir. Berfikir tentang perjalanan hidup yang kita telah jalani selama ini. Sejenak kita merenung. seberapa banyak dosa yang kita buat? Apakah dosa yang kita perbuat sepadan dengan kebaikan yang telah kita kumpulkan? Dalam perenungan itu, mungkin kita dapat kesimpulan sementara, bahwa kita banyak melakukan kemaksiatan. jauh sekali banyaknya dibandingkan dengan kebaikan yang kita lakukan.
  Saat itu, barangkali ada dua perasaan pada kita, positif dan negatif. satusisi kita ingin meninggalkan perbuatan buruk-buruk itu. disini kita mungkin sedikit mengingat hari akhir, kematian, surga dan neraka. maka perasaan yang muncul pada kita adalah rasa khawatir dan waswas. mungkin juga muncul rasa bersalah, dan perasaan ini selanjutnya mengajak kita berhenti melakukan perbuatan-perbuatan jelek itu.
 

KETIKA SESEORANG BANGGA BERBUAT SALAH

Ada beberapa remaja sedang duduk-duduk berkumpul. mereka menengak minuman keras sambil bercerita. "Hey..hey..sebulan terakhir ini gue udah ganti pacar empat kali, semua gue putusin karna gk mau diajak gituan," kata salah satu diantara mereka.
  Yang lain menimpali, "ahh elu sih masih kalah ama gue. Gue juga punya empat pacar. sampe sekarang gue masih jadian sama empat-empatnya." Orang yang paling tua tak mau kalah angkat bicara, "Ellu masih pacaran, Gueee nihh..., Udah empat kali kawin, tapi sayangnya berakhir dengan cerai semua." yang lain juga tak mau kalah, "Gue juga punya empat istri... masih ngumpul ampe sekarang. Tak apa-apa kan, meskipun semuanya gk tau kalau mereka gue madu."

  Kisah cermin diatas adalah sebuah "cermin hitam" dibeberapa kawasan tertentu negara ini. Sebuah kondisi yang sangat buruk. kasalahan, keburukan, dan kemaksiatan menjadi kebiasaan mereka. Sesuata yang karna sering mereka lakukan, akhirnya menjadi suatu hal yang mempengaruhi perilaku mereka, bahkan mungkin menjadi suatu kebiasaan.
   Banyak orang bangga atas kasalahannya. dilingkungan tertentu, banyak anak remaja bahkan usia dewasa bangga karna berbuat salah. tentunya perasaan ini akibat dari jauhnya nilai-nilai agama pada diri mereka. bisa jadi hal ini juga dikarnakan "salah asuh dari keluarga dan lingkunganya. inilah yang terjadi jika kita hidup di lingkungan yang buruk, jauh dari nilai-nilai agama, tempat dimana orang terbiasa melakukan kesalahan. sudah barang tentu mereka juga akan, menyanjung dan hormat kepada orang yang paling banyak dan berani berbuat dosa. Masyaallah.!!
   Bagi kita yang tahu agama akan menilai hal tersebut sebagai perbuatan yang amoral dan bodoh. Tetapi sayang, keadaan tersebut justru banyak terjadi dimasyarakat, bahkan juga disekitar tempat tinggal kita.

 Jika anda berada dilingkungan yang baik dan mendukung, mungkin cerita yang anda dengar berbeda dengan kisah diatas. anda akan melihat seorang remaja menghormati orang yang lebih tua. anda juga menyaksikan orang yang lebih dewasa bersikap arif kepada yang lebih muda, memberikan contoh teladan yang baik dan mengayomi. Anda akan bernafas lega melihat mereka senang melakukan ibadah bersama-sama, solat dimesjid dan berkumpul sambil berbicara tentang agama. Anda juga akan merayakan pemandangan indah melihat beberapa oang yang ikhlas memberikan sedikit hartanya, atau seseorang yang rela mengeluarkan banyak hartanya untuk membantu saudaranya yang lain. masyaallah indahnya ketika kita berada lingkungan yang seperti ini.